Puasa dan Pencerdasan Hawa Nafsu

Oleh, Sabara Nuruddin
Peneliti Bidang kehidupan Keagamaan Balitbang Agama Makassar
Diterbitkan di Harian Fajar Edisi Selasa 8 Juli 2014

“Medan pertama yang harus kamu hadapi adalah nafsumu sendiri. Jika kamu menang atasnya maka terhadap yang lainnya kamu lebih menang. Dan jika kamu kalah dengannya maka terhadap yang lainnya kamu lebih kalah. Karena itu, cobalah kamu berjuang melawannya dahulu.” (Imam Ali bin Abu Thalib kw)

Alkisah sepulang dari Badar, perang akbar pertama antara umat Islam dan kaum kuffar, di mana pasukan muslim yang jumlah tiga kali lebih kecil berhasil peroleh kemenangan yang gilang-gemilang. Tiba-tiba di tengah sorak-sorai dan yel-yel kemenangan, Rasulullah saww bersabda yang memecah euforia massa, “sesungguhnya kita baru saja dari jihad kecil dan bersiaplah untuk jihad yang lebih besar”. Para sahabat pun heran dan bertanya; “Ya Rasulullah, perang apa lagi yang lebih besar dari perang Badar ini?”, Lelaki agung itu menjawab; “Jihad akbar (perang besar) adalah jihad melawan hawa nafsumu”.
Tidak ada pergulatan yang paling berat bagi manusia, selain pergulatan melawan dirinya sendiri. Pergulatan tersebut adalah pergulatan dalam diri antara akal melawan nafsu. Nafsu bukanlah sesuatu yang buruk, karena tanpa nafsu, manusia tak akan pernah tumbuh dan berkembang. Ibarat sebuah delman, nafsu adalah kuda yang menarik delman, tanpa kuda, delman tersebut tak akan berjalan, namun kuda tersebut harus ada sais yang mengarahkan agar kuda tersebut tidak keluar dari jalannya, dan sais tersebut ibarat akal yang mengarahkan hawa nafsu untuk tetap pada jalannya serta mengendalikan hawa nafsu agar tak keluar dari jalurnya.
Hasil pergulatan antara akal dan nafsu inilah yang akan menentukan kebahagiaan atau kesengsaraan manusia di dunia dan akherat. Manusia dalam pergulatan ini terbagi dalam dua kelompok, kelompok takwa dan kelompok fasik. Takwa merupakan capaian kemenangan akal atas hawa nafsu, sebaliknya fasik adalah orang-orang yang hawa nafsunya menguasai akalnya. Sebagaimana ditegaskan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, “barangsiapa akalnya mengalahkan hawa nafsunya ia akan beruntung, dan barangsiapa yang hawa nafsunya mengalahkan akalnya, ia akan celaka”.
Oleh karena berat dan pentingnya pergulatan ini, hingga Rasulullah menyebutnya sebagai jihad akbar dan pergulatan ini senantiasa terjadi di mana pun dan kapan pun sepanjang hela nafas manusia. Maka disyariatkanlah puasa sebagai sarana latihan menundukkan dan menguasai hawa nafsu sehingga ia bisa tunduk untuk dikendalikan dan diarahkan menuju ketaqwaan sehingga membawa manusia kepada kebaikan, Tujuan dari mengalahkan hawa nafsu dari pergulatan akbar tersebut, bukanlah hendak mematikan atau mengekang hawa nafsu secara tetap, melainkan mengendalikan hawa nafsu, atau lebih tepatnya mencerdaskan hawa nafsu di bawah kendali akal sebagai imam.
Sayyed Husein Nasr menulis, bahwa aspek paling sulit dari puasa adalah ujung pedang pengendalian diri yang diarahkan pada jiwa hewani. Dalam puasa kecenderungan jiwa hewani untuk memberontak, perlahan-lahan dijinakkan melalui penaklukkan kecenderungan tersebut secara sistematis dengan mentaati perintah Ilahi melalui menahan lapar, dahaga, nafsu seksual, dan gejolak amarah. Setelah hawa nafsu dijinakkan, maka mudahlah bagi akal kita untuk mengendalikan dan menuntunnya kepada jalan kebenaran.
Puasa merupakan riyadhah yang lebih ultim dari sekedar laku tapa, karena puasa memantik nalar rasional sekaligus menyuluh rasa cinta yang meluap-luap dari seorang insan. Kesadaran rasional terpantik untuk melawan bengkalai diri yang paling berpotensi menghadang jalannya hijrah kemanusiaan. Itulah hawa nafsu yang mengarahkan manusia pada bu’dul bahimi(Kecenderungan syaitaniyah) yang dehumanis. Puasa menekankan manusia untuk mengendalikan keliaran hawa nafsu, sehingga akal dapat menjadi penunggang yang baik yang mampu mengontrol diri untuk hantarkan jiwa berjalan pada jalannya.
Pada level awam, puasa adalah sebuah pergulatan batin antara manusia dengan hawa nafsunya. Hal ini ditujukan untuk mengendalikan hawa nafsu agar manusia tak terseret pada kesia-siaan dan tidak terjebak pada kecenderungan pada bayang-bayang fatamorgana dunia. Pada level yang khusus, puasa adalah sebuah proses refleksi kedirian manusia untuk mendengar suara-suara kebenaran dari kedalaman nuraninya. Itulah sebabnya, bagi kaum khawwas, puasa tidak sekedar menahan hasrat instingtif jasmaniyah secara fisikal semata, tapi juga mengendalikan kecenderungan-kecenderungan ragawiyah yang terbetik di pikiran dan dihatinya. Bagi kaum khawwas, puasa tak sekadar menahan lapar dan dahaga, tapi puasa adalah proses “membunuh” segala potensi-potensi bengkalai kejiwaan. Bagi kaumkhawwasul khawwas, puasa adalah proses untuk menyingkap kebenaran sejati dari bisik sirr al-asrar dari kedalaman kalbu yang paling sublim. Oleh karena itu, puasa bagi kaum khawwasul khawwas adalah proses “peniadaan” dari segala selain DIA, agar dalam pikiran dan hati kita hanya ada DIA dan hanya tertuju padaNYA, tidak untuk selain DIA.
Menahan lapar, dahaga, dan hubungan seksual sebagai representasi nafsu dunia dari terbit fajar hingga terbenam matahari merupakan riyadhah (latihan) diri mengendalikan hawa nafsu dan kecenderungan pada hasrat dunia. Dengan menahan, terkandung hikmah, bahwa hawa nafsu hendak dicerdaskan, menahan hawa nafsu dari keliaran yang menghancurkan, sehingga nafsu menjadi terkendali dan berjalan sesuai koridornya dan digunakan sesuai proporsinya. Dengan proses menahan nafsu tersebut, akal mendapat ruang yang lebih untuk memainkan perannya tanpa gangguan hawa nafsu yang liar, sehingga akal dapat benar-benar memainkan peran vitalnya sebagai penuntun manusia pada kebaikan dan kebenaran. Orang yang puasa Ramadhannya berhasil adalah orang-orang yang hawa nafsunya tercerdaskan, sehingga keluar dari bulan Ramadhan menjadi orang-orang yang mampu mengendalikan diri dari keliaran hawa nafsu.
Sebulan berpuasa akhirnya melahirkan manusia baru, yakni manusia yang lebih mengedepankan perilaku rasional sekaligus merawat moralitas. Akhirnya, manusia baru sebagai kader madrasah ramadhan tak membedakan sebelas bulan pasca-Ramadhan dan Ramadhan itu sendiri. Roh Ramadhan terus membimbingnya pada sebelas bulan lainnya. Hal ini bisa terwujud karena penempaan diri melalui pencerdasan hawa nafsu selama bulan suci Ramadhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *