Peringatan Maulid dan Refleksi Kecintaan Kepada Nabi

Peringatan Maulid dan Refleksi Kecintaan Kepada Nabi


Dimuat di harian Fajar edisi Sabtu 26 Januari 2013
Sabara Nuruddin
Peneliti Bidang Kehidupan Keagamaan
Balai Litbang Agama Makassar

Seorang laki-laki dari kalangan Anshar datang menemui Rasulullah saw, ia mengadu kepada baginda Nabi, “Ya Rasulullah, aku tidak tahan berpisah denganmu, jika aku masuk ke rumahku, lalu aku ingat dirimu, aku tinggalkan harta dan keluargaku, aku lepaskan kerinduanku dengan memandangmu. 

Lalu, aku ingat pada hari kiamat, pada hari itu engkau dimasukkan ke surga dan ditempatkan di tempat yang paling mulia, bagaimana aku, ya Nabi Allah?”. 

Beliau tidak menajwab, tidak lama setelah itu, turunlah ayat, 

Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama orang-orang yang Allah anugerahkan nikmat, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan para shalihin, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya, (QS, an-Nisa:69). 

Begitu ayat tersebut turun, Rasul memanggil laki-laki tersebut dan membacakan ayat itu dan memberikan kabar gembira kepadanya, ia dijanjikan akan bersama Rasulullah saw di sana. Rasul saw juga berkata anta maa man ahbabta (Engkau akan bersama orang-orang yang kau cintai).

Rasulullah saw adalah makhluk Allah yang paling panats dan paling wajib untuk kita cintai di atas apa pun di dunia ini, bahkan melebihi kecintaan pada harta, keluarga, maupun diri kita. 
Suatu hari Ali bin Abi Thalib ra ditanya oleh seseorang; 
“Bagaimana kecintaan kalian kepada Rasulullah saw?”, Ali menjawab; “Demi Allah, ia lebih kami cintai dari harta kami, anak-anak kami, orang tua kami, dan bahkan ia lebih kami cintai daripada air sejuk bagi orang yang kehausan”. Pada sebuah riwayat dikatakan, Rasulullah saw bersabda, “tidak beriman salah seorang di antara kamu sebelum aku lebih dicintainya dariapda anaknya, orang tuanya, dan semua manusia”. 
Hal ini juga ditegaskan dalam firman Allah; 
Katakanlah jika orangtua kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, kerabat kalian, dan kekayaan yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian takutkan kerugiannya, atau tempat tinggal yang kalian senangi lebih kalian cintai dari Allah dan RasulNya dan dari jihad di jalanNya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya, dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. (Qs. at-Taubah:24).
Jika kecintaan kepada Rasulullah saw adalah sebuah kemestian bagi setiap umat Islam, maka tentu cinta meniscayakan lahirnya ekspresi, cinta menuntut bukti, mencintai seseorang atau sesuatu akan berimplikasi pada kecintaan dan ekspresi pada setiap hal yang berkenaan dengan objek yang kita cintai tersebut. Mencintai Rasul berarti kita mencintai segala hal yang berhubungan dengan beliau, dan tidak akan melewatkan momen-momen penting yang berkenaan dengan diri beliau saw. Maulid atau peristiwa kelahiran beliau adalah momentum besar yang berkenaan dengan diri beliau.

Di Indonesia, peringatan hari maulid Nabi saw yang jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiul Awwal telah menjadi bagian dari tradisi keislaman masyarakat Nusantara. Dapat dikatakan tidak ada satu etnik pun yang dominan pemeluk Islamnya tidak menjadikan peringatan maulid sebagai tardisi keagamaan yang rutin digelar. Semarak peringatan maulid nabi menggaung bahkan sepanjang bulan Rabiul Awwal dari Aceh hingga daerah kepala burung di Papua Barat. Setiap etnik memiliki ragam ekspresi yang berbeda dalam mengapresiasi peringatan maulid Rasul saw, tentu saja hal ini menjadi khasanah besar dalam kebudayaan masyarakat Islam Indonesia.

Peringatan maulid adalah sebuah tradisi yang sangat penting dalam mengup-grade kecintaan kepada sosok Rasulullah saw. Karena dengan memperingati hari kelahirannya, maka kita akan mengenang sosok dan kepribadiannya yang sangat mulia. Jalaluddin as-Suyuti (Salah seorang penulis tafsir Jalalain) mengapresiasi peringatan maulid sebagai ungkapan syukur atas diutusnya Nabi Muhammad Saw ke muka bumi. Penuturan ini dapat dilihat dalam Kitab al-Ni’mah al-Kubra Ala al-Alam fi Maulid Sayyid Wuld Adam. Menurut beliau, memperingati maulid Nabi saw adalah ungkapan kecintaan sekaligus kesyukuran atas kehadiran beliau di muka bumi menghidayahi umat manusia dan menyelamatkannya dari lembah kesesatan.

Oleh karenanya, memperingati maulid Nabi saw mnejadi sangat penting bagi umat Islam, guna semakin mendekatkan diri kepada sang Nabi dan menjadi momentum pengingat akan kemuliaan akhlak dan keagungan pribadi beliau. Peringatan maulid nabi adalah ungkapan kecintaan kepada Rasulullah sang suri teladan yang mulia, dan dengan memepringati kelahirannya akan memantik ghirah keislaman kita dengan meneladani kepribadian beliau yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Namun, hal yang patut diingat, kesemarakan dalam peringatan maulid Nabi saw hendaknya tidak diarahkan pada aspek seremonial belaka yang bahkan mungkin menjurus kepada hal yang bersifat hura-hura. 
Kesemarakan peringatan maulid Nabi saw mestinya diarahkan pada penghayatan akan perjalanan hidup Nabi saw dan menjadikan peringatan maulid Nabi saw benar-benar menjadi momentum syiar yang diarahkan pada peningkatan kecintaan kepada Nabi dengan menghidupkan sunnahnya dan meneladani akhlak mulianya. 
Sehingga substansi peringatan maulid Nabi saw dapat benar terrealisasi dan berbekas di jiwa umat Islam yang merayakannya. “Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.” (Qs. Ibrahim: 5).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *