Kurban: Sebuah Ritus Universal

Diterbitkan di Harian Fajar Edisi Sabtu 4 Oktober 2014
Oleh: Sabara Nuruddin
Peneliti Bidang Kehidupan Keagamaan
Balai Litbang Agama Makassar


“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah),” (QS. Al-Hajj (22); 34)

Jika kita mempelajari tradisi agama atau kepercayaan mana pun, maka kita pasti menemukan salah satu ritus penting yang bahkan menjadi inti ajaran sebuah agama atau kepercayaan, tradisi tersebut adalah tradisi kurban. Bahkan, secara modus, tradisi kurban yang dipraktekkan oleh tiap-tiap agama dan tradisi memiliki kemiripan, yaitu pada momen tertentu menyembelih binatang ternak tertentu untuk dipersembahkan kepada Tuhan atau Dewa.
Kenapa kurban menjadi bagian sangat penting dalam tradisi setiap agama?. Secara gramatikal, kurban berarti upaya untuk mendekatkan diri dengan menunjukkan bukti sebagai tanda keseriusan. Setiap manusia memiliki fitrah atau kecenderungan pada pemujaan atau pengkudusan pada sosok yang dianggap agung atau sakral yang memiliki kekuatan adi duniawi. Sosok tersebut adalah Tuhan Yang Maha Agung, yang secara fitrawi imanen dalam diri setiap manusia Meski di satu sisi bersifat imanen, manusia juga punya kecenderungan untuk mengeksternalisasi sosok Tuhan sebagai sosok yang berada di luar dirinya untuk kemudian ia puja dan ia kultuskan.
Berangkat dari kecenderungan fitrawi pada pemujaan dan pengkultusan dan tarikan kerinduan yang kuat secara imanen akan Sang Ilah inilah, manusia kemudian “berkepentingan” untuk memberikan persembahan yang istimewa pada Sang Khalik tersebut. Di sinilah ritus kurban menemukan akar primordialnya, bahwa berkurban adalah sebuah ritus persembahan seorang manusia yang dengan segala kelemahannya pada Tuhan dengan segala keagungannya sebagai tempat bergantung. Dengan berkurban, manusia menemukan medium untuk memberikan persembahan sebagai manifestasi pemujaan, pengkudusan, dan pengharapan akan kedekatan diri pada Sang Maha Agung tersebut.
Kemudian, kenapa binatang ternak yang dipilih sebagai medium persembahan dalam ritus kurban? Secara historis, binatang ternak, seperti unta, domba, atau kambing pada dimensi nilai materialnya di zaman dahulu merupakan harta kekayaan yang sangat berharga. Karena, semakin orang memilikinya, semakin kaya dan tinggi status sosial orang tersebut di tengah masyarakat. Dengan demikian, binatang ternak adalah simbol ketinggian status seseorang, baik secara ekonomi maupun secara sosial. Itulah sebabnya kenapa binatang ternak dipilih oleh Allah sebagai medium bagi manusia untuk senantiasa mengngat dan menyebut NamaNya.
Dengan menyembellih dan mengalirkan darah binatang ternak merupakan simbolitas bagi manusia dalam menyembelih “ke-aku-an-nya” untuk kemudian lebur dalam “Ke-Aku-an” obyektif dan universal. Secara sosial, binatang ternak adalah makanan konsumsi elit, sehingga dengan menyembelih bintang ternak, kemudian dagingnya dibagi-bagikan untuk kemudian dinikmati bersama. Pada sisi inilah, kurban bukan hanya memiliki nilai persembahan spiritual (vertikal), tetapi memiliki nilai persembahan sosial (horisontal). Kurban bukan hanya sekadar bentuk penyerahan diri kepada Sang Pencipta, tetapi bentuk kepedulian antar manusia. Di dalam ibadah kurban, kita dituntut untuk membagikan kurban kita kepada orang-orang muskin papa, karena sejatinya yang membutuhkan uluran tangan kita adalah mereka, dan Allah menginginkan kita berbakti kepadaNya dengan berkhidmat kepada mereka.
Dengan demikian, dalam ritus kurban tercover tiga elemen penting, yaitu secara teologis, kita mengagungkan dan memuja Sang Khalik melalui medium ternak sebagai persembahan. Dalam ritus kurban ada refleksi akan nilai Tauhid sebagai nilai dasar dalam mengarungi hidup. Dalam kurban, ada pengakuan bahwa hanya Allah sebagai tumpuan harapan dan hanya Dia yang patut untuk dikuduskan, dan hanya Dia yang patut untuk diberikan persembahan yang agung. Persembahan yang agung itu adalah diri kita, dan binatang ternak sebagai simbolnya.
Secara psikologis binatang ternak yang kita kurbankan adalah manifestasi hasrat batin kita untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan peleburan ego subyektif kemanusiaan yang partikular pada Ego Obyektif Ilahiah yang universal. secara psikologis, ritual kurban mengingatkan manusia untuk memberikan segala hal berharga yang dimilikinya, yang berpotensi untuk memalingkan perhatian, kecintaan, dan pengabdiannya kepada Allah. Kurban mengajarkan kepada manusia untuk menjadi merdeka dengan tidak memperhambakan diri kepada segala sesuatu selain Allah. Kurban juga mengajarkan bahwa segala realitas selain Allah adalah nisbi dan hanya Dialah yang Mutlak.
Secara sosiologis, kurban merupakan ritus yang mengingatkan kita untuk selalu berbagi pada sesama, kurban adalah refleksi pengakuan pada kemanusiaan yang satu, oleh karenanya tak ada alasan bagi manusia yang memiliki kelebihan untuk tidak berbagi kepada sesama. Hal ini telah diingatkan oleh Nabi Muhammad saw dalam sabdanya, “Kenapa kamu beribadah kepada Allah begitu tekun, tapi kenapa kamu tidak mau berkurban padahal kamu memiliki harta yang berlebihan?”
Yang perlu diingat pula bahwa binatang ternak yang kita kurbankan, darah binatang yang kita alirkan dan daging yang kita bagi-bagikan tersebut hanyalah medium, bukan yang substansi dalam kurban. Yang substansi dalam kurban adalah derajat ketulusan kita untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Yang substansi dari kurban adalah ketulusan kita untuk berbagi kepada sesama. Hal ini diingatkan oleh Allah dalam firmanNya;Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah dan tidak (pula) darahnya, tetapi takwa daripada kamulah yang dapat mencapainya… (QS. Al-Hajj (22) : 37).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *